TikTok Sekarang Bukan Cuma Joget Belaka

Image for post
Image for post

Saya sudah mempunyai aplikasi TikTok hampir beberapa bulan terakhir.

Saya coba download karena katanya TikTok is the biggest thing right now. Mungkin, maksudnya aplikasi yang sedang naik sekarang.

Tidak bisa dipungkiri, TikTok punya awal yang kurang bagus di Indonesia. Di kepala saya, entah kenapa TikTok itu alay dan cuma sekadar joget.

Tapi di 2020, pemainnya semakin banyak. Variasi pun bertambah. TikTok bukan cuma perempuan dengan baju tank top dan bergoyang mengikuti lagu.

Saya menemukan tips fotografi, tips bisnis, reuploader (dari bola, motivasi, sampai acara Tonight Show).

Saya paling suka olahraga. Sepak bola, bulutangkis voli, tenis, ping pong, basket, UFC, American Football.

Saya yang kurang begitu paham peraturan voli, dibuat paham dengan potongan video yang saya lihat. Begitu juga dengan ping pong, tenis, dan sepak bola Amerika.

Mungkin problemnya ada di sini.

FYP : For Your Page.

Halaman beranda ini kadang random sekali.

Pernah satu video tampil di FYP. Video motor. Saya like. Lalu, setiap saya scroll, akan muncul video motor terus-menerus.

Pernah juga, satu video orang menjelaskan tentang suatu hal muncul di FYP. Saya like. Kemudian, orang itu terus keluar di FYP saya. Padahal saya cuma suka satu video yang tadi saya. Yang kebetulan sesuai selera saya.

Akhirnya, kalau ada video yang tidak cocok, langsung saya scroll ke bawah. Bahkan, siap saya report as spam. Kadang ada video kecelakaan, yang tentu saja bukan selera saya, tampil di FYP.

Itu yang pertama.

Kedua, ini mungkin agak susah menjelaskannya.

Kalau ada satu video trending dengan efek tertentu, semua orang di TikTok akan menggunakan efek yang sama.

Trending video flashback foto lama. Semuanya pada bikin itu.

Trending prank pacar. Semuanya pada bikin itu.

Trending bahas ANJAY. Semuanya pada bikin itu.

Sebenarnya tidak masalah, toh di semua social media juga begitu. Cuma kalau di TikTok itu, terutama di FYP, entah kenapa rasanya jadi cepat jenuh.

Terlalu cepat berulangnya. Baru scroll sekali, ketemu video yang sama lagi. Scroll lagi, lah itu lagi yang keluar.

***

Image for post
Image for post
Charlie d’amelio. User dengan follower terbanyak 84 juta. Dancer yang sepertinya membawa tren joget ke dunia TikTok

Ini memang kurang bisa disebut sebagai social media. Namun, lebih ke tempat para content creator.

Konten yang dulu harus ABCD, sekarang dihajar formulanya dengan video pendek, singkat, straight to the point ala TikTok.

Saya kurang tahu apakah aplikasi ini akan bertahan lama.

Facebook & Twitter punya pasarnya sendiri.

Instagram punya pasarnya sendiri.

Bahkan, podcast & Youtube punya pasarnya sendiri.

Sepertinya, TikTok tidak perlu menghadapi itu semua. Pasarnya cukup spesifik untuk anak muda dan yang suka video singkat. Tinggal apakah para creatornya bisa dapat uang dari TikTok? Youtube saja ada adsense bagi para creatornya.

Apakah TikTok akan begitu?

Atau sudah begitu?

Biar kita lihat saja ke depannya nanti.

Oh, apakah saya pernah mencoba membuat satu video di TikTok? Belum. Dan sepertinya tidak akan. Menjadi viewer saja sudah cukup.

Personal Blog:

Written by

Talks about Movies & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id | https://karyakarsa.com/aldypradana17

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store