Image for post
Image for post

Saya sedang tidak ingin memotivasi atau bermain filosofi, hanya sekadar ingin berbagi opini.

Saya sering mendengar teman saya, bahwa dia akan bahagia kalau sudah punya motor Vixion. Dia akan bahagia kalau sudah punya mobil sendiri. Dia akan bahagia kalau punya barang tertentu.

Saya berpikir, “Memangnya kebahagiaan berasal dari barang?”

Versi audio dari postingan ini

Saya termasuk orang yang sederhana.

Makan saja yang penting makan, kenyang, dan makan tepat waktu.

Saya punya maag, jadi makan tepat waktu lebih memenuhi syarat utama.

Saya bisa makan dengan nasi tempe saja, nasi telur, nasi abon. Yang penting makan dan tepat waktu.

Apakah ingin makanan yang berbeda? Bisa jadi. Tapi, kalau nggak makan itu, ya gapapa. Saya bukan anak kuliner. Tidak harus makan di soto terkenal di wilayah tertentu untuk merasakan sedapnya suatu hidangan.

Makanan apa saja (asal sesuai selera saya) sudah cukup.

Kita punya keinginan & harapan yang ingin di raih. Permasalahannya, itu semacam tujuan yang ingin dicapai. Bukan standar kebahagiaan.

Pasti saya punya keinginan sendiri. Punya MacBook, punya mobil, punya rumah. Tapi tidak menaruh stempel, “Saya baru bahagia setelah ada barang-barang tadi.”

Itu semacam hal terpisah bagi saya.

Kembali lagi ke kalimat awal di postingan ini, saya tidak ingin memotivasi dan bermain filosofi, saya hanya ingin berbagi opini.

Boleh setuju, boleh tidak setuju.

Sekian dari saya.

Semoga bermanfaat.

Episode podcast lainnya:

Episode Podcast #20

Written by

Talks about Movies & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id | https://karyakarsa.com/aldypradana17

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store