Podcast dan Format Audio Yang Semakin Menguasai Media Sosial

Image for post
Image for post

Saya termasuk orang yang suka memakai earphone dan mendengarkan musik selama perjalanan. Entah naik motor, perjalanan jarak jauh, atau hanya sekedar jalan-jalan pagi di sekitar rumah.

Sampai suatu hari, bertemulah saya dengan Podcast.

Saya lupa kapan, mungkin sekitar 2–3 tahun lalu. Lewat Podcast milik Apple, saya pertama kalinya mendengar konten audio. Dimana orang berkicau tentang tema tertentu selama 30–60 menit. Pemainnya juga masih sedikit, tidak seperti sekarang.

Podcast yang pertama saya follow itu Garyvee dan Podcast Awal Minggu (Adriano Qalbi). Hanya dua itu yang masih saya dengar, bahkan sampai sekarang. Mereka juga yang masih konsisten membuat konten audio, saat penggemarnya masih sedikit.

Image for post
Image for post

Itu berubah ketika masuk pada tahun 2020, podcast dan format audio sedang naik-naiknya. Pemainnya semakin banyak, tersebar di Spotify, Podcast, bahkan Youtube.

Ditambah, ada podcaster ekslusif khusus di Spotify.

Joe Rogan, yang paling terkenal, dibayar mahal untuk pindah dari Youtube.

Kalau di Indonesia, konten ekslusif seperti ini ada: Podkesmas, Makna Talk, Raditya Dika, Thirty Days of Lunch. Saya kurang tahu ada lagi atau tidak.

Kita sekarang berada di mana konten menjadi hal yang penting. Apalagi ketika Pandemi masih menyerang seperti ini.

Podcast, dimana pembuatannya lebih “mudah” dibanding video Youtube, jadi andalan para konten kreator. Kebanyakan Podcast berisi monolog, tanya jawab, atau mengobrol. Di sesi mengobrol, durasinya sampai satu jam lebih. Memenuhi kebutuhan konten di zaman sekarang.

Kategorinya beragam, memberikan banyak pilihan kepada para pendengarnya. Komedi absurd, ngobrol anak tongkrongan, sampai interview seseorang secara mendalam.

Garyvee pernah bilang, audio akan menjadi masa depan. Orang semakin sibuk, ingin melakukan banyak hal secara multitasking.

Menurutnya, orang juga meninggalkan “menonton” Youtube. Cukup dengan “mendengarkan” Youtube.

Saya sebelumnya tidak begitu setuju, lalu berubah pikiran sesudah merasakannya sendiri.

Saya mulai membiarkan video Youtube bersuara, tanpa saya melihat visualnya. Tidak lagi menikmati pemandangan, tidak lagi menganggungkan cinematic. Benar saja, kesibukan saya untuk mengerjakan sesuatu yang lain, memaksa saya untuk “mendengarkan” Youtube.

Dari pengalaman saya sendiri, sepertinya format audio akan unggul. Podcast semakin jaya, dan semakin besar ke depannya.

Written by

Talks about Movies & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id | https://karyakarsa.com/aldypradana17

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store