Pengkhianat (cerpen fiksi)

https://www.pinterest.com/pin/388224430350721651/

“Apakah kalian sudah mendapatkan kopernya?” bilang seseorang di telepon mobil.

Dua orang berjas hitam memasuki mobil dengan tergesa-gesa.

“Sudah, pak.” jawab pria berjas hitam tanpa dasi, duduk di kursi pengemudi.

Ia melihat ke teman satunya, “Segera masuk, kita harus segera pergi dari sini.”

Temannya, sama-sama berjas, menggunakan dasi hitam memanjang menemani kemeja putih di balik jas, membanting pintu mobil.

“Oke-oke!” ucapnya, sedikit kelelahan.

Pria tanpa dasi emosi, “Seharusnya anda bergerak lebih cepat. Ini misi penting, tidak boleh ada satupun kesalahan.”

“Iya, saya tahu. Tadi hanya ada satu kesalahan sedikit.” jawab temannya, lalu memangku koper yang ia bawa.

“Yang penting, misinya berhasil.” tambahnya, sambil menepuk koper tersebut.

“Baguslah kalau kalian sudah mendapatkan kopernya. Segera kembali ke markas.” ucap seseorang dari telepon mobil.

Mereka membalas, “Siap, kami segera ke sana.”

Pria di kursi pengemudi menjalankan mobilnya. Sambil menyetir, ia mengecek pistolnya, “Peluru saya tinggal satu. Bagaimana dengan anda?”

“Peluruku habis.” jawab pria berdasi tanpa melihat pistolnya. Ia memperlihatkan sabuknya, “Senjata saya tinggal pisau lipat ini saja.”

Pengemudi melirik ke pisau yang terselip di bagian sabuk, “Seharusnya anda tidak perlu membuang peluru sebanyak itu.”

“Kondisinya rumit. Saya harus melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.” kata temannya, sambil merapikan jasnya.

“Amatir.” ucap pengemudi, kesal.

“Sebaiknya anda diam.” jawab pria berdasi sambil menepuk koper di pangkuannya. “Karena misinya berhasil. Kita mendapatkan kopernya sesuai instruksi.”

Suara dari telepon memotong pembicaraan mereka.

“Markas baru saja mendapatkan laporan. Ada pengkhianat di antara para anggota. Belum lengkap informasi siapa pengkhianat itu. Sebaiknya kalian semua waspada.”

Mereka berdua mendengarkan kalimat itu dengan seksama.

Seketika kata terakhir selesai terucap, mereka saling memandang satu sama lain.

Pria pengemudi menurunkan satu tangannya, menempel ke pahanya. Bersiap mengambil pistol berisi satu peluru di balik jasnya.

Pria berdasi membuka jasnya. Memperlihatkan pisau lipat yang tersimpan di bagian sabuknya.

“Pengkhianat, ya?” tanya pria yang mengemudi.

“Jika anda orangnya, saya tidak akan kaget.” lanjutnya.

Pria di sebelahnya berkata, “Orang yang menuduh mungkin saja pelakunya sendiri.”

“Bagaimana bisa? Bukan saya yang menghabiskan peluru! Bukan saya yang melakukan banyak kesalahan!” balas pengemudi, emosi.

“Kata orang yang semestinya tahu, bahwa tidak ada yang namanya sempurna di misi seperti ini. Keinginan anda untuk menjadi sempurna, justru mencurigakan.”

Pria tanpa dasi memberhentikan mobilnya, lalu mengeluarkan pistol. Ia mengarahkan pistol menggunakan tangan kirinya.

“Diam dan mengakulah! Sudah jelas anda orangnya!”

Menatap pistol di kepalanya, pria berdasi berkata, “Anda melakukan kesalahan.”

“Kesalahan bagimu, mungkin. Tapi, kebenaran bagi saya.”

Mereka saling menatap di antara pistol yang siap menembak.

Pria berdasi memukul ke atas tangan kirinya, lalu mengeluarkan pisau lipatnya. Ia menusuk pisau ke rusuk kiri pengemudi.

“ARGH!” teriaknya kesakitan. Tangannya mencoba melawan. Ia arahkan kembali pistol ke temannya, tapi ditepis dengan koper.

Pria berdasi mendorong koper ke muka temannya, pisau ia tancapkan lebih dalam.

“DIAM!” bilangnya mengerahkan kekuatannya. “NIKMATI SAJA SISA HIDUPMU, PENGKHIANAT!”

“ARRRGGH!!!!” teriak pengemudi, mencoba melawan. Ia gunakan sisa-sisa kekuatannya untuk lepas dari situasi tersebut. Tangan kanannya mencoba terjepit ke pintu, tangan kirinya terhalang koper.

Pria berdasi melempar koper ke bangku belakang. Ia sobek badan temannya, dari perut sebelah kiri ke sebelah kanan. Kedua tangan memegang pisau, memotong perut temannya.

Tangan sang pengemudi akhirnya bebas, ia arahkan kembali pistol ke arah badan pria berdasi, “ANDA SELALU MELAKUKAN KESALAHAN. DASAR AMATIR!”

DOR!

Peluru menembus perut pria berdasi.

Badannya terhempas kembali ke kursi sebelah pengemudi, melempaskan genggaman dari pisau yang tertancap.

Keduanya saling menatap.

Mereka sadar, ini akhir dari kehidupan mereka.

Suara dari telepon kembali datang.

“Dimana kalian? Cepat segera kembali ke markas.”

“Kami sudah mengetahui siapa pengkhianatnya. Orangnya sudah tertangkap dan sudah terkunci di markas. Segera kembali, serahkan kopernya, dan misi kalian selanjutnya adalah menginterogasi pengkhianat ini.”

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id