Image for post
Image for post
https://pin.it/1Me1w6a

“Gede banget rumahmu.” kata seorang remaja, matanya melihat ke sekeliling.

“Ada kolam renangnya, ada patung gede-gede banget lagi. Ayahmu kok bisa kaya banget. Pake ilmu hitam, ya?”

Temannya yang tinggal di rumah itu langsung membantah, “Mulutnya minta ditampol pakai barbel.”

Remaja tamu ini mendekati temannya di dapur, “Ini rumah paling gede yang pernah aku datengin. Terus cuma tinggal bertiga doang lagi.”

“Harusnya bertiga, tapi lihat sendiri, kan, di sini aku cuma sendiri.” jawab tuan rumah, mengambil beberapa cemilan.

“Seenggaknya ada patung seukuran manusia ini yang jadi temenmu.” kata tamu melirik ke patung, lalu membantu membawa minuman bersoda.

Tuan rumah tidak menanggapi. Kedua tangannya terisi, mulutnya tertutup roti. Ia dan temannya berjalan ke samping kolam renang.

Di tepi kolam, ia menghindari tangan-tangan patung yang menyilang, “Hmppf, hmmpf-hmmpf hmmpf hmmpf.”

“Ha, apaan?” tanya temannya, tidak mengerti.

Ia menelan rotinya, lalu mengulangi, “Awas, hati-hati sama ….”

BRUK!

“Tangan patungnya.”

Selesainya tuan rumah berbicara, satu patung tersenggol oleh temannya. Patung seukuran manusia itu jatuh menjauhi kolam renang. Badannya terbelah dua. Pecahan kepalanya menyebar kemana-mana, tersisa dua potongan besar dari badan dan kakinya.

“Duh, sorry banget, ya.” bilangnya, panik. “Gimana, nih?”

“Ya udah, santai aja.” ucap tuan rumah. “Taruh dulu makanan dan minumannya. Kita beresin ini dulu.”

Mereka menaruhnya di meja tepi kolam, lalu kembali ke pecahan patung tadi.

Mereka berdua mengangkat badan patung itu. Saat baru diangkat ke atas, patungnya terbelah.

“Aduh… Makin berantakan.”

“Ya udah, angkat sisa-sisanya. Nanti dibu….”

Tuan rumah tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat sesuatu dari dalam badan patung tersebut.

“Itu apaan?”

Mereka melihat sesuatu dari belahan patung. Cairan pekat berwarna merah mengalir pelan-pelan. Bau busuk menusuk, memaksa isi perut untuk keluar.

“HUUEEK!”

Teman yang bertamu tak dapat mengendalikan tubuhnya. Tuan rumah tidak tahu harus berkata apa. Mereka kaget, tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

Detak jantung memukul dada, berdetak lebih keras dari biasanya. Keringat mengalir, membasahi kepala dan tubuh mereka.

Dua remaja tak tahu harus berbuat apa. Hanya saling pandang tanpa bertindak.

Tiba-tiba suara melengking menyerang telinga mereka. Nada tinggi masuk ke kepala, mengancam pikiran mereka.

Perjanjiannya sederhana. Kuberi kau segalanya, asal kau biarkan anak-anakku tumbuh di sini.

Remaja menutup telinga mereka. Mendorong keras tangannya ke kepala.

Dengan ini, perjanjiannya batal.

Written by

Talks about Movies & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id | https://karyakarsa.com/aldypradana17

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store