Marketing Versi Pandji Pragiwaksono

Image for post
Image for post

Beberapa hari yang lalu, saya menonton video Marketing Versi Pandji di Youtube.

Postingan ini tercipta dengan tujuan untuk catatan pribadi. Bisa jadi, postingan ini bisa menjadi bacaan juga bagi semua.

Ini adalah yang saya ambil dari Video Pandji.

“Bisa stand up, dan bisa hidup dari stand up adalah dua hal yang berbeda.”

Ketika kita berbicara jual beli, ilmunya bukan lagi tentang stand up (atau apapun bidangnya). Ilmunya adalah ilmu jualan. Sales adalah bagian dari pemasaran secara umum.

Kalau misalnya, ada sirkus ke kota.

Dibikinlah poster seukuran kertas A3: Sirkus akan segera tiba. Tanggal sekian. Jam sekian. Harga tiket sekian. Dengan lokasi di sini.

Itu yang dibikin namanya iklan.

Saat poster tersebut ditempel di tubuh gajah, lalu gajahnya mengelilingi kota. Itu namanya promosi.

“Iklan itu itemnya. Alat dimana kita bisa mengkomunikasikan apapun yang ingin kita sampaikan.”

“Promosi adalah kegiatan mengsirkulasikan iklan tersebut.”

Posternya (iklan) tertempel di gajah. Gajah berjalan mengelilingi kota. Gajah membawa poster mengeliling kota untuk melakukan promosi. Gajah melewati tempat ramai seperti pasar, cafe, dan tempat ramai lainnya.

Misalkan, gajah masuk ke rumah walikota.

Kemudian, buang air di taman, menginjak mobil, dan merusak halaman.

Orang-orang ramai melihat kejadiannya. Orang-orang foto kejadiannya lalu menyebarkan di social media. Itu namanya publisitas.

Image for post
Image for post

“Publisitas ialah suatu kondisi dimana orang dengan riang gembira, dengan inisiatif sendiri, menyebarluaskan suatu kejadian. Kebetulan, kejadiannya adalah sesuatu yang kita lempar.”

Kalau ternyata walikotanya keluar. Warga bertanya tentang gajah tersebut, lalu walikotanya santai berkata, “Gapapa. Tenang, tenang. Namanya juga gajah.”

Walikota malah mengajak foto gajah tersebut. Foto tersebut masuk ke media massa. Itu namanya Public Relation.

Gara-gara semua yang terjadi di atas, orang-orang datang ke sirkus saat hari H.

Orang-orang membeli tiket di loket. Harga tiketnya Rp 50.000, kalau beli 4 jadi cuma Rp 150.000, kalau ada anak setengah harga.

Kalau misalkan ada yang beli 4, ditawarkan kalimat seperti ini, “Kebetulan anda sudah beli 4, kalau tambah 100ribu lagi, akan mendapatkan free flow minum.”

Itu namanya sales.

“Ketika orang sudah sampai ke sirkus, dari melihat iklan, promosi, publisitas, atau kegiatan public relation, lalu orang itu membeli tiket. Ada upsalenya (menambah 100ribu, mendapat keuntungan lebih), apapun transaksi itu, apapun kegiatan itu, itu namanya sales.”

Setelah di dalam sirkus, dimana-mana kelihatan logo, di loket, di panggung, dan di tempat lainnya. Logo itu adalah logo yang tertempel di tubuh gajah yang mengeliling kota.

Sehingga suatu hari kemudian, setiap orang melihat logo yang sama, orang teringat kembali dengan memori sirkus yang pernah ia tonton. Itu namanya branding.

“Karena terlalu kuatnya logo itu di kepala, saat logo itu muncul lagi di koran pada tahun depan, hanya dengan melihat logo yang sama, orang teringat pengalaman dan kenangan dari gajah mengelilingi kota hingga sirkusnya. Itu namanya branding.”

Dan semua yang diceritakan dari awal sampai akhir, jika itu terdesain dan direncanakan, itu namanya strategi marketing.

Sumber:

“Mari kita mulai masuk ke jualan stand up comedy.”

“Satu hal yang ingin gue ceritakan di awal, bahwa gue bikin kelas ini, karena gue sadar, ternyata tujuan gue berpromosi itu tidak sama dengan kebanyakan orang.”

“Tujuan gue berpromosi adalah untuk membantu orang yang mau, jadi bisa beli tiketnya. Bikin orang yang mau, jadi bisa beli digital downloadnya.”

Sementara, orang lain bikin iklan, kemudian ia berpromosi untuk memastikan sebanyak-banyaknya orang tahu. Di antara banyak yang tahu itu, ia berharap banyak yang beli.

“Gue pengin bantu yang mau, jadi bisa. Jadi gue, tidak berpromosi ke semua orang.”

“Iklan gue tidak didesain ke semua orang. Iklan gue didesain ke orang yang memang sudah mau.”

Jauh sebelum Pandji membuka dagangannya (digital download, merchandise, tiket stand up, dll), pasti harga tiket, kapan tiket dibuka, bagaimana cara membeli tiket, itu semua sudah diberitahukan terlebih dahulu.

Karena memang tujuannya untuk membantu yang memang mau membeli.

“Sebenernya, orang yang gue incer ini, memang mau. Cuma gue mesti inget bahwa orang ini punya prioritas.”

“Duit cuma segitu-gitu aja.”

“Dia mesti dibantu menyusun strategi untuk bisa membeli tiket gue.”

Image for post
Image for post

Gambar di atas adalah penutup dari videonya Pandji.

Semua kata-kata di atas saya ambil dari Video Pandji yang sudah terlampir. Ada beberapa kata yang mengalami penyesuain, agar lebih enak dan lebih mudah untuk dibaca.

Semoga postingannya dapat dipahami.

Semoga bermanfaat bagi orang mau belajar.

Sekian dan terima kasih.

Written by

Talks about Movies & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id | https://karyakarsa.com/aldypradana17

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store