Kritikus Film Harus Bikin Film Dulu?

Postingan ini akan mengandung unsur opini, bukan fakta. Jadi, bisa disetujui, bisa juga tidak.

Ini opini saya tentang kritikus film.

Versi audio dari postingan ini

Saya beranggapan, kita semua boleh berpendapat.

Mengenai nasi goreng yang kita beli, sepeda yang kita pakai, dan kaca mata yang kita gunakan.

Entah sisi yang bagus, sisi yang kurang, dan sisi yang biasa saja.

Boleh memuji, boleh menghina (asal sesuai norma dan tata krama).

Saya boleh memuji nasi goreng yang saya beli di pinggir jalan. Boleh pula mengkritisi, jika ada sesuatu yang mengganjal. Misal, saya pesan pedas, tapi yang diberikan, sama sekali tidak ada pedasnya.

Begitu juga dengan kritikus film.

Mereka bisa, dan boleh, memberikan opini tanpa harus “membuat film” terlebih dahulu.

Berpendapat bahwa pengambilan gambarnya bagus, skenario oke, tapi akting para pemain kurang.

Mungkin, dari mereka, para kritikus film, ada yang benar-benar belajar tentang perfilman, ada pula yang tidak. Tapi apapun itu, pendapat mereka diperbolehkan.

Sama seperti mereka, kita bisa menyetujui pendapat mereka, bisa juga tidak. Bagaimanapun juga, ini hanya opini. Bukan sesuatu yang absolut.

Sekian dari saya.

Semoga bermanfaat.

Episode lainnya:

Episode 23

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id