Kecepatan Tangan (cerpen fiksi)

https://www.dreamstime.com/

“Inti dari pemain sulap adalah permainan kecepatan tangan.”

Anak-anak langsung sumringah mendengar kalimat penutup itu.

“Keren banget, Kak.” bilang satu anak.

“Lagi, Kak. Lagi!” sahut anak lain, semangat.

Sambil memainkan koin di jemarinya, remaja ini membalas, “Sudah, sudah. Besok lagi, ya. Kalian pulang saja dulu ke rumah. Orang tua kalian sudah menunggu.”

Tampak kecewa, anak-anak itu meninggalkan remaja tersebut.

“Besok lagi, ya, Kak.” ucap salah satu anak, sambil berjalan menjauh. “Setelah pulang sekolah.”.

“Iya.” Remaja itu tersenyum. “Besok lagi, ya.”

Remaja ini lalu menatap tangan kanannya, menggulirkan koin di antara jemari. Sedangkan tangan kirinya, tersimpan erat di kantong celananya.

Dua anak itu membuka pagar rumahnya.

Sepatu mereka lepas, pintu langsung dibuka sesegera mungkin.

“Assalamu’alaikum!” teriak mereka.

Anak yang lebih tinggi lari mencari Ibunya. Langkah kakinya terdengar ke seluruh ruangan.

“Ibu, barusan aku lihat sulap!” katanya, setelah melihat Ibunya duduk di ruang tengah.

“Oh, ya?” Tangannya menutup majalah, ia lalu mengangkat anaknya ke sofa, “Sulap apa?”

“Koin! Koinnnya bisa hilang!” ucapnya, sambil menirukan bentuk koin lewat jarinya.

Anak yang tertinggal, datang menimpali, “Habis itu bisa ada lagi!”

“Beruntung sekali kalian bertemu pesulap saat pulang dari sekolah? Boleh tahu siapa pesulap itu?” tanya Ibu, penasaran.

Dua anak itu terdiam.

Mereka menggeleng.

“Ya… Besok coba kami tanya.” salah satu anak menjawab. “Besok, kan, bertemu lagi saat pulang sekolah.”

“Baiklah. Sekarang, kalian ganti baju dulu. Ingat untuk mengambil uang jajan kalian di kantong, ya. Tidak ingin uang kalian basah karena tercuci, bukan?” kata Ibu, lalu kembali membuka majalahnya.

“Iya, Bu.” jawab mereka, lalu beranjak ke kamar.

Sebelum melepas pakaiannya, mereka merogoh kantong celana.

“Huh? Uangku kok nggak ada, ya?” bilang satu anak yang lebih kecil.

“Uangku juga.” tangannya menjelajahi tiap kantong. Tidak menemukan sesuatu, Kakaknya berasumsi, “Mungkin jatuh.”

“Mungkin.” balas Adiknya, setengah setuju.

Mereka mengganti pakaiannya, lalu ke kamar mandi untuk mencuci kaki.

“Aku jadi ingin belajar sulap.” kata Kakaknya, sambil mengguyur kakinya.

“Aku juga.”

Kakak menghempaskan air ke kaki adiknya, “Sepertinya mudah. Apalagi, kita sudah diberitahu rumusnya.”

“Rumus apa?” tanya adik, keluar dari kamar mandi.

Kakaknya mengikuti, terus mengangkat tangan kanannya. Adiknya memperhatikan dengan seksama.

Tangannya mengepal, lalu dia buka dengan perlahan.

Selagi menunjukkan telapak tangannya, Kakak berkata, “Inti dari pemain sulap adalah permainan kecepatan tangan.”

Blog: http://www.aldypradana.com

Twitter: https://twitter.com/aldypradana17

Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/

Podcast (spotify): https://open.spotify.com/show/5FmhDoeNOY1gEnpP6ARsdz?si=dj7VyLYORUuQ8dbDv-bIPQ

SoundCloud: https://soundcloud.com/aldypradana17

Youtube: https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store