Fenomena Hustle Culture

Bex Spiller — Custom image by Abbie from Wildflower Illustrations

Postingan ini terinspirasi dari video Youtube Asumsi: https://youtu.be/bCoLj5aFAgA

Di video tersebut menjelaskan, Hustle Culture berasal dari kata hustle, artinya terburu-buru. Hustle Culture bisa diartikan sebagai budaya gila kerja karena tuntutan zaman.

Sebuah gaya hidup dimana seseorang merasa bahwa dirinya harus terus bekerja keras, dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Dengan begitu, ia menganggap dirinya sukses.

Fadhil Abiyyu Koffi, co-founder KalaKrisis

Saya mengambil tema ini, karena saya pernah mengalami hal seperti ini saat bekerja di sekolah alam.

Saya sempat merasa kesibukan saat bekerja adalah suatu keberhasilan. Apalagi, saat itu memang saya menyukai apa yang saya lakukan selama di sana. Hanya saja, itu berefek kepada berkurangnya waktu saya untuk beristirahat.

https://anchor.fm/aldypradana/episodes/Godzilla-vs-Kong-BvS-Versi-Monster-euavc6

Spotify: Aldy Pradana

Saya pernah, demi menyelesaikan satu video spesial (itu adalah video Road to Karimun Jawa), sampai menginap di sekolah. Mengedit seharian semalaman di ruang komputer, demi keinginan untuk segera menuntaskan video tersebut.

(Videonya bisa dilihat di sini: https://youtu.be/Tl05tdQNZTM. Videonya berakhir dengan bagus, tapi sayangnya, setelah itu ada pandemi. Jadi, acara Karimun Jawanya dibatalkan)

Jelas sekali, apa yang saya lakukan waktu itu tidak baik untuk fisik dan mental saya. Pertama, saya kurang istirahat. Kedua, saya merasa tugas harus segera selesai, padahal seharusnya tidak. Ujungnya, hanya menambah stres di kepala.

Burnout ini disebabkan oleh stres kronis yang tidak terkelola dengan baik. Berupa kemampuan kerja yang berkurang, dan bekerja seperti tanpa tujuan. Atau bisa dalam bentuk mereka akan merasa lelah dan pada suatu titik, akan menarik diri dari suatu pekerjaan.

Studi jurnal okupasional medicine mengatakan bahwa orang dengan jam kerja lebih panjang, berapapun usianya, cenderung akan mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur.

Sadar akan hustle culture, membuat saya belajar untuk bekerja lebih efisien. Secukupnya, dan tidak harus terburu-buru. Saya harus menyadari bahwa apa yang saya lakukan sudah cukup, tidak perlu membuktikan apa-apa ke diri sendiri, juga ke orang lain.

Video Asumsi ditutup dengan kalimat yang tepat:

Mulai saat ini, mari mengingat bahwa kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id