Catatan Untuk Masa Depan: Sabar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terinspirasi novel Sabtu Bersama Bapak, saya ingin mencoba untuk meninggalkan jejak di internet. Semoga saat “kamu” dewasa nanti, kamu bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari sini.

Karena ini ditaruh di tempat yang bisa diakses semua orang, mungkin bisa berguna juga untuk semua orang yang mendengarkan episode ini.

Rencananya, ada 11 episode Catatan Untuk Masa Depan. Pada episode kali ini, saya mau bicara tentang sabar.

Kenapa saya taruh sabar di episode pertama? Karena saya merasa sabar itu yang paling utama. Kita harus sabar di setiap kegiatan.

Sabar saat belajar, saat jalan kaki, saat naik motor, naik mobil, saat naik transportasi umum, saat kerja, saat ngobrol dengan keluarga, dengan saudara, teman, tetangga, guru.

Sabar ketika buka social media, ketika nonton youtube, baca komentar netizen, saat bertemu orang yang lebih muda, lebih tua, saat sedang mengantri, membeli sesuatu atau menjual sesuatu.

Sabar kala cuaca lagi panas-panasnya, atau cuaca lagi hujan deras-derasnya.

Sabar saat ketemu ujian, cobaan, musibah, dan lain-lain, dan seterusnya.

Hidup itu panjang, jadi sabar itu penting.

Kalau merasa kesal terhadap sesuatu itu masih wajar, merasa marah itu boleh. Tapi, jangan terus-terusan. Gampang marah itu capek. Capek pikiran, capek fisik. Menjadi orang emosian itu tidak menyenangkan. Tidak menyenangkan bagi diri sendiri, juga bagi orang lain.

Sabar itu membuat pikiran dan fisik lebih santai. Kalem saja menjalani warna-warni kehidupan. Tenang saja menjalani aktivitas sehari-sehari.

Hidup memang begitu. Kadang di satu hari tidak terjadi apa-apa, hidup berjalan normal seperti biasa. Lalu, pada satu hari, hidup terasa ribet, penuh. Jadwal 24 jam padatnya minta ampun.

Kalau kamu lagi mengalami itu, coba ambil nafas. Tenangkan diri kamu.

Sabar, sabar, sabar.

Cari tempat yang bisa menenangkan kamu. Cari kegiatan yang bisa membuatmu lebih santai.

Entah itu duduk sambil makan, tiduran sambil mendengarkan lagu, bermainn game, ngobrol, atau bahkan, cuma bengong saja. Tidak memikirkan apa-apa. Yang penting kamu bisa kembali ke mode tenang, kembali ke situasi yang damai.

Ini nasehat yang saya ambil dari pengalaman saya sendiri. Karena saya sendiri pernah di fase marah-marah, dan itu melelahkan. Capek sendiri. Ketemu orang yang marah-marah itu juga sama. Tidak nyaman, tidak menyenangkan.

Sabar.

Jadilah orang yang sabar, bertemanlah dengan orang yang sabar, beradalahh di lingkungan yang menjaga kamu untuk tetap kalem dan santai.

Semoga kamu bisa melewati hidup ini dengan sabar, dengan tenang, dan dengan damai.

Itu saja untuk episode kali ini. Sekian dari saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

--

--

--

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aldy Pradana

Aldy Pradana

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

More from Medium

Blue Paper Rockets

Who opposed DCN Constitution?

Everything about the weakest Currency in the world (Iranian Rial)

Reflecting on 2021