Catatan Untuk Masa Depan: Hidup Bukan Kompetisi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terinspirasi novel Sabtu Bersama Bapak, saya ingin mencoba untuk meninggalkan jejak di internet. Semoga saat “kamu” dewasa nanti, kamu bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari sini.

Sekarang sudah memasuki episode 7 dari Catatan Untuk Masa Depan, dan pada episode ini, saya akan bicara tentang Hidup Bukan Kompetisi.

Ini mungkin agak berseberangan dengan orang yang kompetitif. Saya cuma ingin berbagi opini bahwa hidup itu tidak perlu berkompetisi. Hidup bukan balapan. Kamu tidak harus lebih cepat dari yang lain, karena setiap orang punya jalur dan jalan ceritanya masing-masing.

Saya ingat, saya itu telat setahun kuliahnya. Jadi, teman-teman SMP dan SMA saya sudah kuliah duluan, saya baru kuliah di tahun berikutnya.

Itu pun ternyata saya tidak selesai kuliahnya. Saya kuliah di Sidoarjo sampai 4 semester, lalu sempat ambil cuti satu semester karena saya ikut ayah saya di Bekasi/Bogor. Saya kemudian kerja di sana.

Terlalu fokus kerja, saya lupa mengurus kuliahnya dan akhirnya dihitung DO. Saya sempat berniat untuk kerja dan kuliah sekaligus, tapi itu terlalu sulit terlaksana. Saya merasa terlalu capek.

Nah, yang tadinya saya telat kuliah, sehabis itu malah saya yang pertama mendapatkan pekerjaan. Teman-teman saya yang lain, masih kuliah.

Bertahun-tahun berlalu, akhirnya semuanya sudah kerja. Saya sudah kerja lebih dari 3 tahun, teman saya yang lain mungkin baru 1–2 tahun.

Dari situ, ada teman saya yang menikah. Katakanlah 3 sampai 4 teman saya menikah lebih dulu.

Saya?

Sempat kepikiran untuk menikah, tapi sadar, masih perlu menabung. Masih perlu banyak persiapan.

Barulah di awal tahun 2021, saya menikah. Dan alhamdulillah, di akhir tahun 2021, kami memiliki anak pertama.

Ini memang agak unik, karena saya dan istri sebenarnya ingin banyak menabung dulu. Namun, takdir berkata lain, alhamdulilah diberi anak di tahun pertama pernikahan.

Saya, yang agak telat menikahnya dibanding yang lain, tapi saya ternyata memiliki anak lebih dahulu.

Intinya apa?

Intinya, setiap orang punya takdirnya masing-masing.

Setiap orang punya jalan cerita yang berbeda-beda. Mungkin satu orang bisa lebih cepat pada suatu hal, tapi agak telat di hal yang lain. Begitu juga sebaliknya. Orang lain agak telat di bidang A, tapi malah lebih dulu di bidang B.

Apapun itu, syukuri apa yang terjadi pada hidup kamu. Jangan terlalu banyak membandingkan. Santai saja. Tenang. Takdir punya rencana sendiri untuk kamu.

Itu saja dari saya. Semoga mudah dipahami.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

--

--

--

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aldy Pradana

Aldy Pradana

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

More from Medium

2022 StartupBus directors

APAC 2022: Africa Coming Together for a Wildlife Conservation Cause Than Ever-Before

Specification & Advantages of Stepper Motors

Why a workplace LMS benefits from a grounding in teaching and education

Why a workplace LMS benefits from a grounding in teaching and education