Catatan Untuk Masa Depan: Bersyukur

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terinspirasi novel Sabtu Bersama Bapak, saya ingin mencoba untuk meninggalkan jejak di internet. Semoga saat “kamu” dewasa nanti, kamu bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari sini.

Karena ini ditaruh di tempat yang bisa diakses semua orang, mungkin bisa berguna juga untuk semua orang yang mendengarkan episode ini.

Rencananya, ada 11 episode Catatan Untuk Masa Depan. Ini adalah episode 2, dan pada episode kali ini, saya mau bicara tentang bersyukur.

Bersyukur tentang apapun yang kita punya sekarang. Mengucapkan terima kasih atas segala rezeki dan nikmat yang kita miliki.

Bagaimanapun kondisi kita, apapun situasi kita.

Saya waktu SD sempat jalan kaki ke sekolah. Sempat juga merasakan naik angkot ke sekolah. Jalan kaki paling 10–15 menit.

Ketika saya naik angkot itu (beda sekolah, saya sempat pindah sekolah saat SD) itu butuh sekitar 30–40 menit, kalau tidak macet. Kalau macet, pLINGbutuh 1 jam.

SMP saya kembali merasakan jalan kaki ke sekolah, sekitar 10–15 menit untuk sampai ke tujuan. Pernah juga naik sepeda, paling memakan waktu 5–10 menit.

SMP mungkin agak terasa minder. Karena yang lain ada yang diantar naik motor, naik mobil. Bahkan, ada yang ke sekolah, membawa motor sendiri.

Tapi, minder saya menghilang.

Setelah ada satu teman saya di SMP, dia naik sepeda dari Boyolali ke Solo. Itu butuh 1 jam. Naik sepeda 1 jam untuk berangkat sekolah. Nanti pulang 1 jam lagi untuk sampe rumah.

2 jam di perjalanan.

Pakai sepeda.

Teman saya ini, karena sadar rumahnya jauh, biasanya jarang main sepulang sekolah. Kalaupun mau ikut main, biasanya cuma sebentar. Agar pulangnya tidak terlalu sore, atau malah, kemalaman.

Sejauh yang saya ketahui, dia merasa baik-baik saja dengan itu.

SMA dia naik motor, kuliah juga dia naik motor. Namun, karena jaraknya lebih jauh lagi, waktu yang harus ia tempuh tetap sekitar satu jam.

Saya sendiri, SMA naik motor. Paling hanya membutuhkan waktu 10–15 menit untuk tiba di sekolah. Kuliah naik motor paling 20–30 menit.

Kemudian saya pindah kota, dan kerja di kota lain. Itu saya harus jalan kaki karena tidak ada motor. Motor yang saya miliki dijual karena suatu keperluan. Itu saya jalan kaki paling 10–15 menit.

Alhamdulillah, selama saya SD-SMP-SMA-kuliah-kerja, saya ternyata merasakan suatu nikmat tersendiri berupa jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.

Karena di luar sana, ada yang berangkat sekolah butuh 1 jam, berangkat kerja butuh 1, bahkan ada yang sampai 2 jam.

Dari situ, makanya kita harus bersyukur.

Bersyukur dari yang kita miliki, nikmat atau rezeki sebesar sekecil apapun itu. Bilang terima kasih sudah diberi kemudahan, keringanan, apapun bentuknya.

Itu saja untuk episode kali ini.

Wassalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh

Social Media: https://beacons.ai/aldypradana17

Tokopedia: https://www.tokopedia.com/arseniostoreid

--

--

--

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aldy Pradana

Aldy Pradana

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

More from Medium

Project 3 — Object Rendering in Rhino

The Challenges behind Ethical Journalism

Rethinking Reimagining the concepts of loft — ‘Re-Loft’ Design Challenge by UNI

JMeter Components and their usage