Berkata Baik Atau Diam

Pngio.com

Saya mendengar kalimat ini, waktu saya mengajar di sekolah alam.

Kalimat itu termasuk kalimat klasik, yang mempunya makna yang sama dengan “Diam itu Emas.”

Sederhana.

Maknanya juga jelas.

Tapi, apakah kita semua sudah melakukan ini?

Jujur, saya sendiri belum.

Saya masih suka berkomentar tidak perlu, terhadap suatu hal yang seharusnya tidak saya komentari.

Namun, saya mengakui, saya semakin berkembang setiap harinya. Saya mampu menahan suara di kepala, tetap diam di sana, tanpa harus terucap lewat mulut.

Sepele memang, tapi ini penting.

Kita tidak pernah tahu perasaan orang, kondisi orang, situasi orang seperti apa.

Kalimat sederhana semacam, “Kapan nikah?” bisa menusuk hati seseorang. Pengucap hanya bertanya, tetapi tidak bagi orang yang ditanyai. Orang yang mendapat pertanyaan itu bisa saja memikirkan kalimat itu dalam-dalam. Bahkan, merenungkannya setiap malam.

Instagram: @arsenio.store.id

Saya sendiri tidak setuju dengan kalimat, “Lho, saya emang begini orangnya.” lalu berkata seenak jidat, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Well, saya juga begitu orangnya, cuma saya ingin menjadi manusia lebih baik. Kalau komentar pendek malah melukai hati orang, ya, buat apa?

Jadi, saya kembalikan ke orangnya. Kalau saya akan mengusahakan kalimat ini:

Berkata Baik Atau Diam.

Kalimat itu sederhana, dampaknya luar biasa.

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id