Banyak Teori, Nggak Pernah Praktik

Belajar banyak hal itu bagus. Banyak membaca itu makin bagus. Tapi, kalau hanya berhenti di “teori”, lalu jarang praktik jadinya percuma.

Saya ambil contoh ke diri saya sendiri.

Saya pernah belajar banyak teori stand up comedy.

Beli bukunya, lihat video stand up comedy (dalam & luar negeri), tau tehnik berupa set up — punchline, rule of three, riffing, call back, act out, dan seterusnya.

Tapi saat praktiknya, saya hanya bertahan dua kali open mic dan satu kali audisi stand up comedy.

Jelas itu tidak cukup.

Saya cuma melakukan praktik di 3 kali kesempatan itu, dan pastinya, sangat-sangat kurang.

Harusnya, praktik — praktik — praktik.

Dari sana, saya pernah coba buat buku personal literature.

Beli cara menulis cerita dari Raditya Dika, belajar tentang babak 1–2–3, mencoba menulis tentang karakter + tujuan + halangan.

Namun, setelah bukunya jadi dan saya bawa ke penerbit Bukune, ternyata hasilnya buku saya ditolak.

Lalu, sudah. Saya tidak menulis lagi. Karena tidak punya ide besar lagi yang mau ditulis.

Tidak terbiasa praktik jadinya bingung sendiri.

Saya seperti murid sekolahan, dimana formatnya: belajar materi, terus ulangan sesuai materinya. Tidak lanjut ke segi praktiknya.

Episode 29

Sekarang, saya mau membiasakan praktik — praktik — praktik.

Apalagi saya sedang berjualan online, harus membuat konten sebanyak apapun dalam bentuk teks — audio — visual.

Bikin terus, bikin terus, bikin terus.

Kalau salah, evaluasi, bikin lagi, bikin terus.

Episode podcast lainnya:

Episode 30
Episode 31

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store