4 Cerita Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam

Postingan ini pernah diposting di blog saya: aldypradana.com (2015).

Kumpulan cerpen fiksi tentang segala kemungkina dari jatuh cinta diam-diam. Yang baik, yang buruk, bahkan yang tak terduga.

#1 Bayu dan Gaby

#2 Derita Cinta Aldo

#3 Dua Sisi Aldrian

#4 Gaby dan Bayu

#1 — Bayu dan Gaby

Waktu istirahat. Perpustakaan. Duduk di pojok, dekat rak buku IPA.

Dia selalu di sana.

Gaby selalu di sana.

Dan dalam jarak yang tak begitu jauh, aku mengerjakan tugas sambil melihatnya diam-diam.

Selalu.

Selalu begitu.

Aku mencuri pandangan dalam persembunyian, tak berani mengajaknya ngobrol langsung. Ingin sekali dapat berdiri di depannya, saling bicara empat mata, lalu akrab kemudian. Namun, apa yang ingin aku obrolkan?

Game?

Mana mengerti Gaby soal itu.

Politik?

Memangnya Gaby peduli untuk bicara hal yang amburadul seperti itu.

Buku?

Ya. Harusnya, tentang buku. Ia pasti suka bicara tentang buku. Ia selalu membaca buku di sini. Bacaannya juga bervariasi. Dari buku pengetahuan, buku islami, sampai novel.

Masalahnya, aku tak suka membaca seperti Gaby.

Aku tak betah lama-lama membaca buku. Hanya komik yang bisa membuatku duduk lama berjam-jam. Membalikkan halaman demi halaman, dari volume 1 sampai volume 10. Aku baca semuanya sekaligus tanpa jeda. Paling hanya rasa lapar atau haus, dan kebutuhan ke kamar mandi yang mampu memisahkanku dengan komik.

Aku memaksa betah di perpustakaan hanya karena dia.

Menatapnya, senyumku terbentuk sendiri saking senangnya.

Menatapnya, hatiku meleleh, mencair karena bening wajahnya.

Menatapnya, aku merasa tenang. Setenang air sungai yang mengalir pelan.

Aku sudah lama mengaguminya. Dari awal masuk SMA, sejak pertama kali mengenalnya di MOS, aku selalu mengikuti gerak-geriknya. Mungkin, sekarang sudah hampir 1 tahun. Tapi, aku tetap tak berani bilang kalo aku menyukainya.

Aku belum cukup berani untuk berkata cinta kepadanya.

Mungkin, lain kali. Atau malah, tidak sama sekali.

Aku sudah nyaman dengan situasiku sekarang.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.

Beberapa hari kemudian, Gaby sudah berada di perpustakaan saat istirahat kedua.

Ia sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah buku. Kali ini, sebuah novel dari Dee Lestari, berjudul Filosofi Kopi.

Ia sudah di sana dengan gaya yang sama.

Rambut dikuncir, poni tersisir rapi, jam tangan pink terikat di tangan kiri, dan bahunya tegak, tak menempel sandaran kursi. Matanya fokus, tak ingin diganggu.

Semuanya sama.

Gaby di sana, dan aku di sini. Terpaut jarak rak buku, meja, dan kursi.

Semuanya sama. Kecuali, satu hal.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Siapa dia? Kenapa dia duduk di sana? Kenapa dia bisa duduk di sebelah Gaby yang aku sukai?

Cowok itu lalu memanggil Gaby. Gaby menengok sambil menutup bukunya.

Ini hal yang cukup aneh. Karena biasanya, teman dekatnya saja selalu ia acuhkan kalo sudah asyik membaca. Tetapi sekarang, Gaby berbeda. Dengan cowok itu, ia berbeda.

Mereka mengobrol akrab. Tawa, senyum, sentuhan halus pada lengan menyelip saat mereka saling bicara.

Kemudian, mataku merekam kejadian mengejutkan.

Saat mereka saling berpandangan, tangan mereka menyatu di bawah meja. Sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang banyak di perpustakaan.

Dan saat itu terjadi, badanku menggigil. Hawa dingin merangkul tubuh, membekukanku hingga membatu.

Aku pun merasa sepi.

Diantara orang yang berlalu lalang di tempat ini, diantara wangi parfum ruangan yang tersebar bersama angin AC, diantara kata-kata yang samar terucap, aku tiba-tiba merasa kosong.

Aku terdiam seperti telah terinfeksi sebuah penyakit parah, yang menyerang langsung di bagian hati.

Mungkin, inilah akibat dari jatuh cinta diam-diam.

Tak kunjung berkata apa yang sudah tersarang di hati, akhirnya malah sakit hati sendiri.

Dengan keadaan kepala masih dirubung awan hitam, aku pun beranjak dari kursi, lalu menuju pintu keluar.

Mungkin, ini sudah saatnya aku mencari perempuan lain.

Mungkin, aku akan mendapatkan pengganti Gaby yang jauh lebih baik.

Dan bila nanti aku menemukannya, aku harus berani bilang cinta kepadanya.

3 Cerita lainnya bisa dilihat di KaryaKarsa saya:

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store