Image for post
Image for post

Saat saya SMP, saya pertama kali mendengar band bernama Endank Soekamti.

Judul lagunya juga unik, Pejantan Tambun. Seperti versi jenaka dari Pejantan Tangguh, Sheila on 7. Tentunya, hanya secara judul, karena secara lirik dan musik jauh berbeda sekali.

Beberapa tahun berselang, sekitar 3–4 tahun yang lalu, saya menemukan vlog dari Mas Erix Soekamti, basisst Endank Soekamti. Vlognya berjudul DOES (DIARY OF ERIX SOEKAMTI).

Vlognya tidak generic seperti vlog yang ramai pada saat itu. Vlognya seperti dokumenter yang ringan. Masih sehari-hari, tapi punya 3 babak sesuai format film: awal — tengah — akhir.

Cerita sehari-hari, dikemas seapik mungkin, ditambah narasi +…


Image for post
Image for post

Saya mengetik postingan ini sambil melihat trending Youtube Indonesia.

Pada tanggal 23 Februari 2021, kolom trending diisi dengan Nissa Sabyan, Podcast Sule & Ariel, Nissa Sabyan (lagi), Cabriolet Challenge, Highlight sepak bola, Nissa Sabyan (banyak sekali ternyata), Podcast Semprod, Podcast Deddy Corbuzier, dan seterusnya.

Oke, pertama yang mau saya bahas adalah kenapa banyak sekali video gosip yang menguasai trending?

Ada 5 video trending yang membahas Nissa Sabyan. Ada yang cuplikan dari TV, ada yang youtuber membahas tentang hal serupa.

Saya yang tidak ingin mengikuti perkembangan gosip ini, seakan dipaksa untuk mengetahuinya.

Podcast: Aldy Pradana

Ada cukup banyak video Podcast yang…


Image for post
Image for post
Glints.com

Satu hal yang saya alami setelah menikah adalah saya menjadi rajin mencatat pengeluaran.

Menjaga kestabilan keuangan sangat penting bagi keluarga baru seperti kami. Dari sudut pandang kami, dengan mencatat apa yang kami beli, kami tahu betul setiap uang yang keluar. Kami dapat menyeimbangkan keuangan agar tabungan tidak bocor.

Kami mencatat setiap hari dengan cara paling sederhana. Misal,

Senin:

Belanja untuk makan sehari (Rp 16.000)

Selasa:

Sarapan — Soto dua porsi (Rp 30.000)

Makan siang dan makan malam sudah tidak mengeluarkan biaya karena masih ada belanja pada hari Senin

Rabu:

Cakue (Rp 10.000)

Makan malam — Mie ayam dua porsi (Rp…


Image for post
Image for post
@ eddrobertson

Buat yang pernah membaca Medium saya, pasti sadar saya sering menampilklan “iklan” jualan online saya.

Saya memang sengaja menyelipkan Arsenio Store ID dalam postingan saya. Cuma, saya terus mengingatkan ke diri sendiri, bahwa saya harus beriklan dalam tahap yang wajar. Jangan terlalu ambisius.

Beriklan menurut saya boleh, berlebihan yang jangan.

Kalau saya berambisi sekali untuk beriklan, tiap satu alinea akan saya masukkan iklan link jualan saya. Masalahnya, itu akan menjadikan saya sebagai orang yang berambisi tanpa hati.

Itu dia kenapa terus mengingatkan saya untuk menggunakan hati. Bagaimana caranya postingan saya mempunyai value dulu. Punya manfaat dulu. …


Image for post
Image for post
Pngio.com

Saya mendengar kalimat ini, waktu saya mengajar di sekolah alam.

Kalimat itu termasuk kalimat klasik, yang mempunya makna yang sama dengan “Diam itu Emas.”

Sederhana.

Maknanya juga jelas.

Tapi, apakah kita semua sudah melakukan ini?

Jujur, saya sendiri belum.

Saya masih suka berkomentar tidak perlu, terhadap suatu hal yang seharusnya tidak saya komentari.

Namun, saya mengakui, saya semakin berkembang setiap harinya. Saya mampu menahan suara di kepala, tetap diam di sana, tanpa harus terucap lewat mulut.

Sepele memang, tapi ini penting.

Kita tidak pernah tahu perasaan orang, kondisi orang, situasi orang seperti apa.

Kalimat sederhana semacam, “Kapan nikah?” bisa menusuk…


Image for post
Image for post
Thenextscoop.com

Untuk beberapa konten kreator, menjadi viral adalah sesuatu yang diinginkan. Di buku yang sedang saya baca, ada cara untuk mendapatkan ratusan, ribuan, jutaan orang berbicara tentang konten viral tersebut.

Berikut adalah rahasia mencapai kesuksesan marketing viral dari buku Unmarketing, karya Scott Stratten.

Faktor WOW

Mempunyai konten lucu atau yang membangkitkan emosi.

Konten yang lucu, jelas harus membuat orang tertawa. Ada satu faktor lagi, saking WOW-nya, konten ini seperti punya “kekuatan” untuk disebarkan ke banyak orang.

“Eh, lihat deh, kucingnya lucu banget.”

Konten tersebar ke banyak orang. Dapat likes dan comment dari banyak orang.

Kemudian, konten yang membangkitkan emosi.

Konten yang membuat seseorang…


Image for post
Image for post
Ekrut.com

Untuk menyampaikan konten di media sosial, kita dapat menggunakan 3 bentuk konten yang berbeda: audio, video, atau teks.

Jika menggunakan audio, kamu bisa merekam podcast sepanjang yang kamu bisa.

Dengan audio, tetap gunakan formula 3P: Point, Prove, Perform.

Mulai dengan poin, membuktikan dengan contoh, dan memberitahu bahwa para pendengar bisa melakukannya sendiri.

Selengkapnya tentang 3P ada di sini:

Hal terpenting yang harus diperhatikan saat merekam audio adalah kualitas suara. Kualitas suara yang bagus datang dari pemilihan alat yang tepat untuk merekam suaramu. Gunakan mikrofon terbaik yang bisa kamu dapatkan untuk merekam suaramu secara maksimal.


Image for post
Image for post
Omnibeat.com

“Konten adalah raja.”

Jika kamu tidak punya konten yang bagus, tidak penting bagaimana cara kamu menyampaikan konten tersebut.

Terus bagaimana cara menciptakan konten berkualitas?

Kamu bisa menciptakannya dari ide sederhana

Ambil satu ide sederhana, lalu mengubahnya ke dalam bentuk konten. Mulailah dari masalah yang dapat kamu pecahkan untuk pelangganmu.

Jika kamu perencanaan keuangan, maka kamu akan menyelesaikan masalah keuangan untuk klien kamu.

Jika kamu orang yang dapat memperbaiki tv, maka kamu memecahkan masalah televisi yang tidak bisa menyala.


Image for post
Image for post
https://ducttapemarketing.com/social-media-routine/

Hal buruk bisa saja terjadi di social media. Contohnya, diserang komentar pedas netizen.

Mulut netizen ini kadang pedasnya bikin hati sesek, kadang memancing untuk melamapiaskan amarah.

Lalu, bagaimana, sih, cara yang tepat untuk menghadapi komentar negatif di social media?

Berikut adalah yang saya ambil dari buku Unmarketing.

Don’t Feed Them

Jangan meladeni mereka.

Cara yang paling baik dan paling tepat.

Mereka ini sebenarnya membenci kehidupannya, dan sedang mencari “kebahagian kecil” di media sosial.

Mereka akan selalu lapar akan “perhatian”.

Kalau mereka tidak diberi makan, pada akhirnya mereka akan mencari makanan di tempat lain.

Jangan Mengekspos Mereka

Akun mereka biasanya akun bodong.

Akun spam yang followingnya banyak…


Image for post
Image for post

Saya memasuki bab ke 17, dari buku Unmarketing.

Bab ini membahas tentang “Bagaimana Twitter Mengubah Bisnis Penulis”. Itu terjadi kala Twitter sedang jaya-jayanya. Apakah masih berlaku di 2021?

Mungkin masih bisa. Tidak salahnya untuk dicoba dan dipraktikkan di social media lainnya (tidak cuma Twitter).

“Untuk melihat apakah Twitter merupakan jejaring yang layak, aku mengambil 30 hari Twitter. Aku akan makan, bernapas, dan hampir tidur di Twitter.”

Pada hari ke-30, penulis memiliki 10.000 followers.

Menurutnya, ia telah membuat hubungan yang lebih baik dan kuat dalam rentang waktu tersebut.

Ia membangun pengikut yang loyal, dan mendapatkan klien yang mau berkonsultasi.

Bagaimana cara…

Aldy Pradana

Talks about Social Media, Movies, & Pop culture | Personal Blog: aldypradana.com | Instagram: @aldy_pradana17 & @arsenio.store.id

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store